Cerita Lengkap Kejatuhan SVB, Ada Andil The Fed, Goldman & VC

FDIC representatives Luis Mayorga and Igor Fayermark speak with customers outside of the Silicon Valley Bank headquarters in Santa Clara, California, U.S. March 13, 2023. REUTERS/Brittany Hosea-Small

Kejatuhan bank skala menegah AS, Silicon Valley Bank (SVB), membuat geger dunia keuangan dan perbankan. Efeknya saat ini juga mulai terasa hingga ke benua Eropa.

Meskipun manajemen SVB menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas runtuhnya bank asal California tersebut, sejumlah pihak lain nyatanya ikut bertanggung jawab dan memberikan andil signifikan yang mempercepat kejatuhan SVB.

Manajemen SVB diketahui terlalu ceroboh dan tidak berhati-hati dalam mengelola dana nasabah yang pada akhirnya harus menjual kepemilikan aset obligasi AS dengan harga diskon setelah terkena tekanan likuiditas.

Kala pandemi ketika uang murah membanjiri pasar, jumlah dana kelolaan pihak ketiga milik SVB menggelembung tajam. Aset SVB naik 100% menjadi US$ 211 miliar dalam kurun waktu dua tahun dari 2019 hingga 2021 pasca kebijakan suku bunga ultra rendah The Fed.

Uang yang banyak tersebut diperoleh karena SVB menawarkan bunga yang lebih tinggi dari pasar secara luas dan jauh lebih besar dari bank-bank raksasa dengan likuiditas kuat. Bunga tinggi ini akhirnya menggerogoti kinerja SVB kala The Fed menaikkan suku bunga acuan.

Selain itu, tumbukan uang tersebut tidak dapat disalurkan secara efektif dengan pertumbuhan pinjaman hanya naik satu digit kala dana pihak ketiga bertambah signifikan. Alhasil SVB menumpuk obligasi yang menjadi permasalahan baru karena harga pasarnya telah turun pasca kenaikan suku bunga.

Di saat bersamaan The Fed juga memiliki andil atas kejatuhan SVB karena kebijakan suku bunga rendah membanjiri pasar dan kenaikan suku bunga meningkatkan tekanan likuiditas serta menurunkan harga pasar obligasi milik SVB, dua terkaman maut yang sukar dihindari.

Tekanan likuiditas atas kenaikan suku bunga The Fed membuat nasabah SVB yang mayoritas berasal dari sektor teknologi berbondong-bondong menarik uang di SVB. Namun karena sebagian besar aset perusahaan disimpan dalam bentuk obligasi, perusahaan tidak memiliki cukup uang tunai jika deposan terus menarik uang di SVB. Pada akhirnya SVB terpaksa menjual rugi kepemilikan obligasinya demi memperoleh uang tunai.

Tekanan penarikan dana diperparah juga oleh sejumlah pemodal ventura (Venture Capitalist/VC) yang menyarankan perusahaan dalam portofolionya menarik dana dari SVB dan memindahkan ke bank besar dengan likuiditas yang jauh lebih baik.

Turunnya kepercayaan mengakibatkan deposan yang berbondong-bondong menarik uangnya di SVB dan pada akhirnya membuat perusahaan tersebut dinyatakan gagal dan diambil alih oleh LPS AS (FDIC).

Ada Peran Goldman dan Moody’s

Beberapa saat sebelum SVB hancur, petinggi perusahaan diketahui mendatangi Goldman untuk meminta petunjuk demi menyelesaikan permasalahan akut yang timbul akibat kenaikan suku bunga The Fed. Mereka perlu mengumpulkan uang tunai tetapi tidak yakin bagaimana cara terbaik untuk melakukannya.

Melansir laporan The Wall Street Journal (WSJ), pembicaraan SVB bersama Goldman tersebut diadakan selama sekitar 10 hari. Dengan produk akhir berupa pengumuman tanggal 8 Maret tentang kerugian hampir US$ 2 miliar (Rp 30 triliun) dan rencana penjualan saham yang membuat takut para investor.

Saham SVB Financial Group turun keesokan paginya. Nasabah utama perusahaan yakni startup dan modal ventura dengan saldo besar yang simpanannya tidak diasuransikan panik, berusaha menarik US$ 42 miliar (Rp 630 triliun) dari bank dalam satu hari.

Meskipun tidak banyak yang bisa memprediksi reaksi keras pasar atas pengungkapan SVB, rencana Goldman untuk bank tersebut memiliki satu kesalahan yang fatal. Goldman meremehkan bahaya bahwa banyaknya berita buruk dapat memicu krisis kepercayaan yang dapat dengan cepat menjatuhkan bank.

Karena saran Goldman, SVB runtuh dengan kecepatan luar biasa dan menjadi kegagalan bank terbesar kedua dalam sejarah AS.

Goldman juga memiliki andil atas gagalnya penambahan modal yang diinginkan oleh SVB dan di saat bersamaan memperoleh keuntungan dari sisi lain.

Para eksekutif ingin melakukan private placement dengan memasukkan General Atlantic dan Warburg Pincus LLC untuk membeli sejumlah saham dengan harga tertentu. SVB ingin melakukannya dengan cepat karena Moodys sedang bersiap untuk menurunkan peringkat bank, langkah yang dikhawatirkan para eksekutif akan membuat investor khawatir.

Bankir Goldman menawarkan opsi lain bagi SVB untuk melakukan penjualan saham hibrida kepada investor publik (rights issue) dan swasta (private placement). Opsi ini dianggap Goldman akan membuat perusahaan menemukan cukup banyak investor untuk mendanai sepenuhnya kesepakatan senilai US$ 2,25 miliar (Rp 34 triliun).

Pada 5 Maret, salah satu calon investor keluar. Warburg menyebut tidak ingin berpartisipasi dalam penawaran dengan komponen publik.

Sementara itu General Atlantic setuju untuk mengumpulkan US$ 500 juta, namun kesepakatan penambahan modal urung terlaksana karena rendahnya kepercayaan investor publik.

Di meja perdagangan, Goldman secara bersamaan meracik kesepakatan lain. SVB sedang mencari pembeli untuk portofolio obligasi yang tersedia untuk dijual (Available for Sale/AFS) senilai US$ 21 miliar (Rp 315 triliun). Pembelinya adalah Goldman.

Pada 8 Maret, Goldman menyelesaikan pembelian portofolio sekuritas SVB dengan harga diskon dari nilai pasarnya. Setelah pasar tutup, SVB mengumumkan bahwa mereka telah mengalami kerugian US$ 1,8 miliar (Rp 27 triliun) atas penjualan tersebut, tanpa mengungkapkan pembelinya, dan mengatakan akan menjual saham untuk meningkatkan modal.

Setelahnya harga saham perusahaan diperdagangkan turun dan tertekan semakin parah setelah SIlvergate mengumumkan akan menutup bank karena kas sudah tidak mencukupi setelah nasabah menarik uang secara besar-besaran (bank run).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*