Cerita Lengkap Skandal Lenyapnya Nikel Rp 8,66 Triliun

A worker poses with a handful of nickel ore at the nickel mining factory of PT Vale Tbk, near Sorowako, Indonesia's Sulawesi island, January 8, 2014. REUTERS/Yusuf Ahmad

Pasar perdagangan komoditas logam kembali dilanda skandal, dengan yang terbaru membuat rugi salah satu perusahaan hingga US$ 577 juta atau sekitar Rp 8,66 triliun. Kasus ini persidangannya saat ini masih bergulir di pengadilan London.

Awal tahun ini perusahaan perdagangan komoditas asal Swiss yang berkantor pusat di Singapura, Trafigura, mengaku telah menjadi korban “penipuan sistematis” dan menghadapi penurunan nilai lebih dari setengah miliar dolar setelah menemukan pengiriman nikel yang dibeli tidak mengandung logam yang diinginkan.

Kerugian ini terjadi beriringan dengan perkembangan pesat yang dirasakan Trafigura selama satu dekade terakhir hingga menjadi pemain besar utama yang sangat menguntungkan di pasar komoditas global.

Layaknya rumah dagang dan penambang lainnya, Trafigura ikut tersengat demam nikel dan berlomba untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat karena nikel adalah material yang sangat penting dalam memproduksi baterai untuk kendaraan listrik.

Ini bukan skandal pertama yang terjadi di pasar logam, dan tidak pula menjadi yang terakhir pasar logam sejatinya memang terbukti rentan terhadap penipuan.

Trafigura yang dirugikan menuduh perusahaan yang dikendalikan oleh pedagang logam Prateek Gupta, termasuk TMT Metals dan anak perusahaan UD Trading Group menjadi pihak yang bersalah.

Pengiriman yang Tertunda serta Isi yang Berbeda

Trafigura berdagang dengan Prateek Gupta, namun setelah lama menunggu pesanannya tak kunjung datang. Oleh pihak manajemen awalnya hal ini dianggap wajar karena pembukaan ekonomi pasca pandemi covid-19 sempat mendisrupsi rantai pasok global.

Setelah menunggu lama kargo yang konon mengandung nikel tak kunjung tiba di tujuan, meskipun waktunya telah diperpanjang dari perkirakan awal. Setelah diselidiki kargo-kargo tersebut diketahui selama perjalanannya berhenti di lebih banyak pelabuhan dari yang diharapkan dan tiba-tiba berhenti menunjukkan dokumentasi, aku Trafigura.

Trafigura mulai memeriksa sejumlah kecil kontainer di Rotterdam. Ketika dibuka, kargo tersebut tidak mengandung nikel. Sebaliknya, masih diisi oleh bahan bernilai lebih rendah seperti baja karbon.

Setelah memeriksa sekitar 156 dari 1.104 kontainer di Taiwan, Uni Emirat Arab, dan Belanda pada bulan Desember dan Januari, perusahaan mengungkapkan tidak ada satu pun dari kargo yang diperiksa berisi material yang sesuai dengan kontrak.

Kecewa dengan mitra bisnisnya, Trafigura dalam pernyataan tanggal 9 Februari mengatakan bahwa mereka telah memulai proses hukum terhadap Gupta dan perusahaan yang terlibat.

Trafigura lalu meminta hakim London untuk membekukan aset yang terkait dengan Prateek Gupta dan perusahaannya, menurut pengajuan Trafigura ke pengadilan. Dalam beberapa jam, hakim telah membekukan aset hingga US$ 625 juta (Rp 9,38 triliun).

Dalam kisruh tersebut, nama perusahaan tambang RI sempat masuk dalam pusaran, meskipun keterlibatannya relatif minim atau tidak ada sama sekali, setidaknya hingga saat ini kala persidangan masih berlangsung.

Berdasarkan dokumen pengadilan Gupta mengklaim telah menawarkan letter of credit lebih lanjut kepada unit bisnis perdagangan holding pertambangan Indonesia, Mind ID.

Letter of credit adalah salah satu alat pembiayaan utama yang mendukung perdagangan global, memberikan jaminan kepada penjual barang bahwa lembaga keuangan akan menutupi kekurangan apa pun jika pembeli gagal membayar.

Siapa Prateek Gupta?

Pratek Gupta adalah lelaki keturunan dari keluarga India yang menjalankan perusahaan logam dan listrik publik, Ushdev Internasional. Dia telah mendorong bisnisnya ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dengan membeli perusahaan perdagangan kecil, TMT Metals AG, pada awal 2016 dibantu oleh bankir di Credit Suisse Group AG yang saat itu mengelola kekayaannya.

Dengan sekitar belasan staf, TMT memperdagangkan aluminium, seng dan timah. Sebelum akuisisi TMT memiliki reputasi yang kuat di kalangan bankir Swiss serta tersedianya fasilitas jalur kredit (credit line).

Dilaporkan WSJ, setelah kesepakatan tersebut, janji bisnis dan klien baru tidak terwujud, dengan staf senior mulai keluar pada 2017 ketika kesepakatan untuk tidak bersaing (non-compete) berakhir.

Setelah pengambilalihan, beberapa bank termasuk Credit Suisse mulai memotong jalur kredit ke TMT, sebagian karena mereka kurang percaya diri untuk menjadikannya TMT sebagai klien setelah perubahan kepemilikan, menurut pengakuan sumber.

Pengurangan jalur kredit bertepatan dengan pengurangan yang lebih luas oleh bank untuk pembiayaan ke pemain kecil yang memproduksi atau memperdagangkan komoditas, mengingat dinamika industri yang menantang.

Selain itu, perusahaan asuransi American International Group (AIG) juga berhenti memberikan asuransi kredit perdagangan ke TMT pada akhir 2019. Kemunduran itu sebagian karena kekhawatiran tentang potensi risiko yang berasal dari perusahaan milik Prateek Gupta.

Pada tahun 2021, perusahaan asal Inggris OCI Ltd menolak kesepakatan dengan perusahaan Prateek Gupta setelah menemukan sejumlah tenda-tanda mencurigakan (red flag).

Meski namanya tidak harum di kalangan industri, tidak semua institusi memutus hubungan dengan Prateek Gupta sejak dini. Citigroup diketahui masih membiayai perdagangan nikel Trafigura dengan perusahaannya hingga akhir Oktober 2022, menurut dokumen pengajuan pengadilan Trafigura baru-baru ini.

Prateek Gupta juga memperoleh sejumlah masalah di India. Dirinya diketahui bekerja bersama orang tuanya di Ushdev, perusahaan publik yang terdaftar di Mumbai yang memperdagangkan logam dan berinvestasi dalam proyek pembangkit listrik.

Setelah ayahnya Vijay Gupta meninggal. Suman Gupta, ibunya menjadi pemimpin (chair) perusahaan, dan Prateek Gupta menjadi wakil ketua pada tahun 2012.

Harga logam secara global tergelincir setelah ekonomi China melambat pada tahun 2015, dan pengadilan memulai proses kepailitan untuk Ushdev pada tahun 2018. Saingan Trafigura, Grup Gunvor termasuk di antara para kreditur Ushdev.

Pada Juli 2022, Biro Investigasi Pusat (CBI) India mengatakan telah menggeledah tiga lokasi dan menemukan “dokumen/artikel yang memberatkan” setelah membuka investigasi penipuan berdasarkan keluhan dari State Bank of India. Dokumen CBI kedua, yang diterbitkan di situs web biro, menunjukkan bahwa penyelidikan ini berfokus pada Ushdev.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*