Gerak 13 Saham Bank Besar RI Gak Kompak Nih, Ada Apa?

pembukaan bursa saham

Saham perbankan Indonesia kelompok KBMI 3-4 terpantau bervariasi cenderung mendatar pada perdagangan sesi I Selasa (28/3/2023), meski saham perbankan global kembali bangkit dari zona koreksi.

Dari 13 saham bank KBMI 3-4, tercatat lima saham menguat, empat saham cenderung stagnan, dan tiga saham melemah.

Berikut pergerakan saham bank KBMI 3-4 pada perdagangan sesi I hari ini.

Hingga pukul 10:00 WIB, saham PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) memimpin penguatan saham perbankan besar di RI pada pagi hari ini, yakni melesat 1,32% ke posisi harga Rp 770/unit.

Sedangkan untuk saham bank raksasa (big four), pergerakannya pada pagi hari ini cenderung beragam, di mana saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpantau menguat masing-masing 0,63% dan 0,57%.

Namun, untuk saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terpantau melemah masing-masing 0,25% dan 4,21%.

Bervariasinya empat saham bank raksasa tersebut terjadi di tengah masih berlangsungnya periode pembagian dividen. Adapun pada hari ini merupakan periode cum date dividen tunai BBCA dan ex date dividen tunai BBNI.

Saham perbankan yang bervariasi cenderung mendatar terjadi meski saham-saham perbankan di global kembali rebound. Di Amerika Serikat (AS), saham Saham First Republic Bank sempat terbang melesat hingga puluhan persen, sebelum berakhir menguat 11,8%.

Tekanan terhadap perbankan kecil di AS sudah mulai mereda. Berdasarkan catatan CNBC International, penurunan deposit di bank kecil yang beralih ke bank besar sudah mulai menurun.

Selain itu, Lembaga simpan pinjam AS (Federal Deposit Insurance Corporation/FDIC) mengumumkan First Citizens BancShare Inc akan membeli simpanan dan pinjaman Silicon Valley Bank (SVB). Pengumuman ini dua minggu setelah kejatuhan SVB yang mengawali krisis perbankan AS.

Kesepakatan itu mencakup pembelian sekitar US$ 72 miliar atau sekitar Rp 1.019 triliun aset SVB dengan diskon sebesar US$ 16,5 miliar, tetapi sekitar US$ 90 miliar dalam bentuk sekuritas dan aset lainnya akan tetap dalam kurator untuk disposisi oleh FDIC.

Bahkan, pemulihan saham bank tidak hanya di AS, tetapi di Eropa juga demikian. Saham Deutsche Bank AG yang belakangan menjadi sorotan setelah merosot tajam berbalik melonjak 4,7%.

Meski demikian, banyak pelaku pasar dikatakan masih enggan masuk ke aset berisiko dan perbankan pada khususnya. Sebab, tekanan besar masih bisa datang.

Kemungkinan terjadi resesi di AS juga dikatakan semakin dekat pasca gonjang-ganjing sektor perbankan. Hal ini bahkan diungkapkan oleh Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari dalam wawancaranya dengan CBS.

“Ini jelas membawa kita semakin dekat (dengan resesi) saat ini, apa yang belum jelas bagi kami saat ini adalah seberapa banyak tekanan perbankan yang bisa membuat krisis kredit meluas. Kemudian, krisis kredit akan memperlambat perekonomian,” kata Kashkari sebegaimana dilansir CNBC International.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*