IHSG Kembali Cerah, Ini Penyebabnya

Pengunjung melintas dan mengamati pergerakan layar elektronik di di Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sesi I Selasa (28/3/23) berakhir di 6.737,26 atau menguat 0,42% secara harian.

Sebanyak 298 saham menguat, 196 saham melemah sementara 208 lainnya mendatar alias tidak berubah. Hingga istirahat siang, nilai transaksi mencapai sekitar Rp 4,5 triliun dengan melibatkan 16 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 864 ribu kali.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia via Refinitiv, mayoritas sektor berada di zona hijau. Sektor energi menjadi yang paling menguntungkan indeks menguat sebesar 1,17%.

Salah satu sentimen positif berasal dari penguatan bursa acuan Amerika Serikat (AS). Indeks Dow Jones memimpin penguatan sebesar 0,6% ke 32.432,08, disusul S&P 500 0,2% ke 3.977,53. Keduanya mampu mencatat penguatan tiga hari beruntun, tetapi sayangnya indeks Nasdaq melemah 0,3%.

Pada perdagangan hari ini, IHSG mendapatkan sentimen positif dari penguatan saham-saham perbankan di Amerika Serikat dan Eropa. Saham Deutsche Bank bahkan berhasil menguat sebesar 4,7% setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam.

Namun, masih banyak pelaku pasar yang enggan masuk ke sektor perbankan karena khawatir dengan tekanan besar yang mungkin datang, seperti pengetatan regulasi dan dampak negatif ke pertumbuhan ekonomi akibat perbankan yang lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

Di sisi lain, kemungkinan terjadinya resesi di Amerika Serikat semakin dekat, terutama setelah adanya gonjang-ganjing di sektor perbankan dan inversi yield Treasury AS.

Inversi tersebut mengindikasikan kondisi yang tidak normal, di mana yield obligasi jangka pendek lebih tinggi daripada jangka panjang.

Pada Selasa (7/3/2023), selisih yield tenor 10 tahun dengan 2 tahun sempat menembus -103,5 basis poin, menjadi yang terbesar dalam lebih dari empat dekade terakhir.

Inversi yield Treasury AS sudah terjadi sebanyak 12 kali sejak tahun 1955, dan hampir selalu diikuti dengan resesi dalam tempo 6 sampai 24 bulan setelahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*