Kripto Jadi Biang Kerok Kejatuhan Bank Beraset Rp1.635 T

Seorang pekerja tiba di kantor pusat Signature Bank di New York City, AS. (REUTERS/EDUARDO MUNOZ)

– Bank regional asal New York, Signature, tumbuh lewat bisnis real estat komersial tradisional lalu menggelembung setelah melayani perusahaan kripto. Keputusan terakhir ternyata memberikan keuntungan besar sesaat namun pada akhirnya malah menjadi batu besar berat yang membebani kapal Signature hingga karam.

Signature adalah bank terbesar ketiga yang gagal dalam sejarah AS, tepat di belakang Silicon Valley Bank, yang ambruk dua hari sebelumnya. (Washington Mutual Inc., pada tahun 2008, adalah yang terbesar).

Pada tahun 2018, eksekutif Signature memutuskan untuk masuk ke kripto, yang dijauhi oleh bank yang lebih besar. Signature membuka rekening deposito untuk perusahaan kripto dan membangun jaringan pembayaran yang memungkinkan mereka saling mengirim dolar dengan cepat. Meski demikian, bank tersebut tidak memegang aset kripto atau memberikan pinjaman yang didukung oleh aset digital.

Pada awal tahun 2022, sekitar 27% dari simpanan Signature senilai US$ 109 miliar (Rp 1.635 triliun) berasal dari klien aset digital. Sahamnya naik bersamaan dengan reli mata uang kripto dan mencapai level tertinggi di US$ 366 pada bulan Januari tahun lalu.

Kemudian dunia kripto meledak. Bank mengurangi setoran kripto setelah FTX gagal. Namun paparan luas ke pasar kripto akhirnya menghantam balik saham Signature.

Pada saat bersamaan, Signature juga mulai merasakan tekanan dari kenaikan suku bunga The Fed yang cepat. Pelanggan mulai menarik uang dari rekening yang memberikan bunga kecil untuk mencari imbal hasil yang lebih tinggi. Signature kehilangan US$ 17,5 miliar (Rp 263 triliun) simpanan pada tahun 2022, penurunan pertama kalinya sepanjang sejarah perusahaan.

Masalah sebenarnya dimulai setelah Silvergate dan SVB runtuh secara berurutan.

Pada hari Kamis, 9 Maret, saat deposan menyerbu SVB, Signature berusaha meyakinkan investor, dengan mengatakan telah membeli kembali (buyback) saham perusahaan minggu itu.

Eric Howell, yang belum lama diangkat menjadi CEO, menghabiskan nyaris US$ 1 juta (Rp 15 miliar) untuk membeli saham Signature pada tanggal 8 dan 9 Maret. Komisaris Utama Scott Shay membeli sekitar US$ 500 ribu saham perusahaan pada 10 Maret.

Kemudian regulator AS menyita SVB pada pagi hari tanggal 10 Maret, memicu kepanikan di antara pelanggan Signature. Seperti SVB, sebagian besar simpanannya- total berjumlah US$ 83 miliar-berada di atas batas limit yang diasuransikan oleh LPS AS, FDIC.

Meski dilanda kepanikan, Signature yakin mampu mengatasi permasalahan tersebut lewat bantuan pinjaman TheĀ Fed dan Federal Home Loan Bank (FHLB) of New York untuk menopang neraca keuangannya.

Signature melawat ke New York FHLB pada 10 Maret untuk meminjam lebih dari US$ 2 miliar jelang tengah hari. Pada pukul 13.30, pelanggan menarik uang dengan sangat cepat sehingga SIgnature harus balik ke FHLB untuk meminjam US$ 2,5 miliar lagi.

Karena persoalan birokrasi permintaan kedua tersebut baru diproses hampir jam 6 sore. Saat itu, pelanggan Signature telah menarik US$ 18 miliar atau sekitar 20% dari total simpanan bank. Permintaan selanjutnya ditolak FHLB.

Pada tanggal 11-12 Maret Signature berdiskusi dengan The Fed terkait pinjaman uang lebih lanjut. Tanggal 12 The Fed berkata tidak akan meminjamkan uang lagi kepada Signature.

Menyusul diskusi dengan regulator di D.C., regulator perbankan New York menyebut mengalami “krisis kepercayaan pada manajemen [SIgnature].”

Tanggal 12 Maret bank ditutup dan kendalinya dilimpahkan ke LPS AS, FDIC.

Setelah melewati serangkaian proses, Signature akhir dibeli oleh Flagstar Bank milik New York Community Bancorp Inc. Mulai Senin (20/3) pekan ini, 40 cabang Signature kembali beroperasi di bawah nama Flagstar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*