Membongkar ‘Udang di Balik Batu’ Telepon Xi Jinping-Zelensky

(COMBO) This combination of pictures created on April 26, 2023 shows Ukraine's President Volodymyr Zelensky (L) leaving from 10 Downing Street in central London on February 8, 2023, after meeting with Britain's Prime Minister, and China's President Xi Jinping (R) attending a meeting with Russian Prime Minister in Moscow on March 21, 2023. - Ukrainian President Volodymyr Zelensky appointed a new ambassador to Beijing on April 26, 2023 after his first call with Chinese leader Xi Jinping since Moscow's invasion. Pavel Ryabikin, who previously headed the ministry of strategic industries of Ukraine, was named Kyiv's new envoy to China, according to a decree on the presidency's website. Ukraine has not had an ambassador to China since February 2021. (Photo by Daniel LEAL and DMITRY ASTAKHOV / various sources / AFP)

Presiden China Xi Jinping telah mengadakan panggilan telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, pada Rabu, (26/4/2023). Ini jadi momen pertama kontak antara kedua pimpinan sejak perang Rusia-Ukraina dimulai.

Pembicaraan keduanya diungkapkan oleh Zelensky. Ia menyebutkan telah berbicara dengan Xi Jinping melalui telepon, yang disebutnya ‘panjang dan bermakna’.

“Saya yakin pada panggilan telepon itu dan bersamaan dengan duta besar untuk China akan memberikan dorongan kuat pada pengembangan hubungan bilateral dua negara,” tulisnya dikutip BBC

Sejak perang Rusia dan Ukraina, China memang berusaha menunjukkan sikap netral. Namun tak seperti negara Barat, Beijing tak pernah mengutuk serangan Rusia.

Dengan sikap tersebut, beberapa analis memaparkan bahwa ada maksud tersendiri yang dimiliki oleh Xi Jinping. Momentum panggilan itu menjadi tanda tanya besar terutama karena Ukraina diketahui secara luas bersiap untuk meluncurkan serangan balasan skala besar terhadap pasukan Rusia.

Sejumlah analis percaya China sangat ingin menghentikan konflik sebelum terjadi eskalasi besar-besaran dalam pertempuran saat musim panas mendatang, di mana lumpur di medan perang mulai mengering dan memudahkan mobilisasi.

“Bulan-bulan musim semi pada dasarnya akan segera berakhir dan saatnya untuk serangan balasan dimulai jadi saya pikir China ingin dilihat sebagai mediator langsung sebelum eskalasi itu,” kata Max Hess, peneliti Eurasia di Foreign Policy Research Institute, kepada CNBC International.

Pandangan serupa dibagikan oleh Oleksandr Musiyenko, seorang pakar militer dan kepala Pusat Studi Militer dan Hukum di Kyiv. Namun, ia mengaku terkejut karena momentum telepon Xi terjadi sebelum Ukraina melaksanakan serangan baliknya.

“Saya yakin bahwa China akan menunggu hasil serangan balik Ukraina dan kemudian mungkin akan mengusulkan sesuatu (tentang gencatan senjata dan pembicaraan damai),” pungkasnya.

Di sisi lain, panggilan telepon ini juga terjadi setelah blunder diplomatik dilakukan Duta Besar China untuk Prancis, Lu Shaye. Pekan lalu, ia menyebut negara-negara yang merupakan bagian dari Uni Soviet, seperti Ukraina, tidak memiliki status dalam hukum internasional.

Komentar tersebut memicu kemarahan di UE serta Ukraina dan negara-negara bekas Soviet lainnya. China terpaksa mengeluarkan pernyataan yang menjauhkan diri dari komentar Lu, bersikeras bahwa ‘China menghormati status bekas republik Soviet sebagai negara berdaulat setelah pembubaran Uni Soviet’.

Menurut ahli strategi pasar negara berkembang senior di BlueBay Asset Management, Timothy Ash, Xi mungkin sedang meluruskan penjelasan Lu terkait Ukraina kepada Zelensky. Namun, ini juga menerangkan bagaimana pejabat China tidak memahami Eropa secara menyeluruh.

“Komentar yang satu ini telah merusak 30 tahun diplomasi China yang sangat hati-hati di kawasan itu,” kata Ash.

Sementara itu, beberapa analis mengaku skeptis tentang posisi China sebagai mediator dan kemampuannya untuk membantu mengakhiri perang. Mereka masih mempertanyakan seberapa besar pengaruh Beijing atas Moskow.

Musiyenko mengatakan China tampaknya tidak memahami konflik tersebut, mencatat bahwa ‘tidak dapat dipercaya’ bagi Beijing ‘untuk menyebut perang sebagai krisis politik’.

“Dia takut gencatan senjata atau perjanjian perdamaian yang diajukan oleh China akan mencakup kondisi yang diusulkan Rusia seperti perubahan batas wilayah,” tambahnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*